Free Tail- Heart 2 Cursors at www.totallyfreecursors.com

Sabtu, 08 Januari 2011

artikel peran agama

PERAN AGAMA
 
Peran Perubahan. Artinya ajaran-ajaran agama dapat merubah umatnya kearah yang lebih baik. Dampak dari perubahan tersebut diharapkan mampu dirasakan oleh masyarakat luas. Agama harus membuka peluang agar umat dengan keputusan sendiri melakukan perubahan sekaligus mengubah masyarakat. Walaupun demikian, agama tidak boleh salah kaprah menilai bahwa semua hal dalam masyarakat [misalnya unsur-unsur budaya, tatanan dan interaksi sosial, cara hidup warisan nenek moyang, dan lain-lain] sebagai kebiasaan lama yang harus dirubah karena tidak sesuai dengan ajaran agama. Jika agama menemukan hal-hal dalam masyarakat yang mungkin saja bertantangan dengan ajaran keagamaan, maka tidak perlu melakukan pemaksaan agar meninggalkannya. Agama hanya memberikan pertimbangan agar umat dengan suka rela meninggalkan hal-hal tersebut.
  1. Peran Perubahan Pribadi Manusia. Alasan-alasan positip seseorang menjadi umat beragama, antara lain agar memperoleh kepastian keselamatan; mengingatkan dirinya sendiri bahwa TUHAN yang menciptakan serta mengatur segala sesuatu termasuk hidup dan kehidupan; kesadaran adanya TUHAN; ajaran-ajaran agama mampu sebagai pagar pembatas agar tidak jatuh serta terjerumus ke dalam cara-cara hidup yang buruk serta negatif; mampu mendorongnya agar berbuat kebajikan, membantu, menolong, memperhatikan sesama manusia berdasarkan kasih; dan lain-lain. Dengan keyakinan seperti itu, bisa dipastikan bahwa, seseorang yang beragama dan sekaligus melaksanakan serta mengimani ajaran agama, maka akan mengalami perubahan pada hidup dan kehidupannya. Semuanya itu berarti, umat beragama, harus membuktikan bahwa hidup dan kehidupannya sesuai dengan ajaran agama. Pada hakekatnya, perubahan diri seseorang ketika ia menjadi umat beragama yang setia dan taat, menyangkut tiga hal penting, yaitu iman, pengharapan, dan [cinta] kasih.
  • Ajaran-ajaran agama, menjadikan seseorang [harus] mengalami perubahan iman [Yunani, pistis; percaya, iman, setia]; dari tadinya tidak percaya berubah menjadi percaya, yakin, setia kepada TUHAN. Jika menjadi umat beragama maka harus mengalami perubahan iman; seandainya ia berganti atau berpindah agama, maka apa yang diimani pun berubah [sesuai ajaran dalam agama barunya]. Perubahan iman pada diri seseorang, memerlukan suatu proses mendengar dan belajar; isi pembelajaran tersebut adalah ajaran-ajaran agama yang dibangun berdasarkan teks-teks [ayat-ayat] kitab suci.
  • Melalui agama seseorang mendapat pengharapan baru; umat mendapat wawasan dan kepastian masa depan [eskhatologis]. Pada sikon hidup dan kehidupan yang tidak menentu, umumnya, manusia mudah mengalami ketidakpastian serta kehilangan pengharapan. Dan jika, sikon tersebut terus menerus terjadi pada seseorang, maka ia akan mengalami gangguan kejiwaan [penyakit jiwa] ringan maupun parah. Di sini, agama berperan untuk merubah keadaannya.
  • Melalui ajaran dan bimbingan, [tokoh-tokoh] agama membuka peluang agar umatnya meraih masa depan dengan baik. Manusia harus bisa mencapai masa depannya ketika masih ada di dunia dan dalam dimensi waktu; serta masa depan setelah hidup dan kehidupan kekinian. Semua umat beragama harus bisa mencapai kedua bentuk masa depan tersebut.
  • Ketika umat beragama mau mencapai masa depan yang masih terbatas pada dimensi waktu dan ruang, maka ia harus melakukan segala sesuatu pada masa kini dengan baik dan benar.
  • Demikian juga dengan masa depan setelah hidup dan kehidupan sekarang. Agama selalu mengajarkan adanya kehidupan sempurna serta kekal di Surga, dan hanya bisa dicapai setelah manusia mati atau meninggalkan dunia ini. Untuk mencapai kehidupan sempurna dan kekal itu, umat beragama harus melaksanakan kehendak TUHAN sesuai yang diajarkan oleh agama-agama.
  • Melalui agama, seseorang dapat mengasihi sesamanya dengan tulus. Semua bahasa bangsa, suku, sub-suku mempunyai kosa kata yang bermakna kasih ataupun mengasihi [cinta dan mencintai]. Kasih merupakan tindakan yang mempunyai kesamaan universal yaitu adanyan hubungan dan perhatian dari seseorang kepada sesama; dari sekelompok masyarakat kepada komunitas lainnya; dan seterusnya. Secara sosial-kultural, kasih membuat umat beragama mampu memperhatikan, berbuat baik, dan menolong masyarakat yang berbeda agama dengannya. Secara keagamaan, kasih menjadikan umat beragama membangun hubungan dengan TUHAN secara sungguh-sungguh serta penuh kesetiaan dan ketaatan
2.      Peran Edukasi. Edukasi dimaksud menyangkut pembinaan, pendidikan, pengajaran dalam arti seluas-luasnya. Memang agama lebih banyak berperan bimbingan spiritual atau rohaniah, akan tetapi tidak boleh berhenti sampai di situ. Agama juga bisa berperan untuk mengembangkan ilmu dan teknologi yang berguna untuk kesejahteraan umat manusia. Peran edukasi pada agama-agama dapat menghasilkan umat taat dan tunduk kepada TUHAN, ditandai dengan tampilan diri yang baik dalam hidup dan kehidupan setiap hari. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan, melalui edukasi, agama dapat berperan untuk membangun peradaban baru. Melalui peran edukasi tersebut lah, agama-agama membangun atau mendirikan institusi pendidikan mulai tingkat rendah sampai tinggi, dengan alasan utama yaitu membentuk sumber daya insani yang berkualitas serta mampu berperan pada berbagai aspek hidup dan kehidupan.
3.      Peran Perbaikan Keadaan Masyarakat. Kompleksitas permasalahan sosial dalam masyarakat dapat menimbulkan penyimpangan, ketidakpedulian terhadap sesama manusia, pelanggaran hukum, serta berbagai tindak kriminal lainnya. Hampir semua bentuk-bentuk penyimpangan, pelanggaran, serta tindakan kriminal tersebut dilakukan oleh manusia yang beragama. Ini berarti ada manusia yang beragama tetapi ia sekaligus bertindak sebagai perusak hidup dan kehidupan masyarakat. Ia bertindak sebagai perusak karena mungkin saja tidak mempunyai penghayatan serta ketidaksetiaannya menjalankan ritus-ritus keagamaanya. Pada sikon seperti itu, agama harus bisa berperan untuk merubah umatnya itu. Kehidupan masyarakat hanya bisa diperbaiki oleh pribadi-pribadi yang mengalami perubahan karena mendapat tuntunan keagamaan. Memang agama tidak mempunyai hak yudikatif terhadap pelanggar hukum-hukum sosial dan masyarakat. Akan tetapi, agama tetap mempunyai hak dan banyak sekali kemampuan untuk merubah manusia. Di sini terjadi, manusia yang berubah [karena peran agama] sehingga perubahan itu berdampak luas pada masyarakat.
  1. Peran Persatuan dalam Masyarakat. Hampir semua aspek yang membedakan manusia, umumnya, sebagai akar perbedaan. Adanya perbedaan ajaran agama-agama dapat menjadi [di sana-sini] konflik diam antar umat beragama; silent conflict, konflik tertutup tapi dampaknya sangat terasa, maupun yang terbuka. Konflik yang diam, sangat mudah meledak menjadi kerusuhan sosial-rasial. Secara langsung maupun tidak, konflik telah menyebabkan permusuhan yang diam antar umat beragama di luar wilayah konflik. Akibatnya, masyarakat menjadi terpecah walaupun mereka tidak terlibat secara langsung dalam konflik umat beragama. Sikon seperti itu hanya bisa diperbaiki jika agama berperan sebagi pelopor persatuan masyarakat. Ini berarti, agama harus berperan sebagai alat untuk membangun hubungan baik antar manusia. Manusia yang berbeda agama bukan merupakan ancaman melainkan saudara. Peran sebagai alat pemersatu masyarakat harus dimulai dari pribadi-pribadi yang terbuka, toleran, berwawasan luas, serta mempunyai kemampunan untuk melihat perbedaan sebagai kesejajaran dan kesamaan untuk membangun dan menuju kemajuan.
  2. Pada masyarakat yang sederhana dan pendidikannya kurang memadai, serta mempunyai wawasan sempit, jika menerima khotbah-khotbah dan ajaran-ajaran yang selalu menyatakan perbedaan, maka dengan sendirinya akan membangun pemisahan berdasarkan agama. Oleh sebab itu, agama-agama, terutama para pemimpin atau tokoh-tokoh keagamaan, perlu memperlihatkan serta menonjolkan peran persatuan dalam masyarakat.
Dengan itu, mereka memperlihatkan kesamaan agama-agama sebagai institusi Ilahi, yang datang dari TUHAN yang sama dan Esa. Jika, agama-agama datang dari TUHAN yang sama, maka selayaknya juga membawa kepersatuan dalam masyarakat. Agama-agama mengajarkan adanya TUHAN Allah yang Esa; TUHAN untuk semua umat manusia; jadi manusia tidak layak melakukan perbedaan atau pemisahan terhadap TUHAN yang Esa tersebut. Namun, sayangnya ada agama yang tidak melakukan hal-hal tersebut.
Jangan sampai terjadi atau terlihat dalam masyarakat bahwa karena manusia mempunyai ketaatan yang sungguh-sungguh, teguh, kokoh, baik, dan benar mengenai ajaran-ajaran agamanya, maka mereka membuat perbedaan antar sesamanya. Jika hal seperti itu terjadi, maka agama akan merupakan sesuatu yang tidak berguna serta bermanfaat untuk hidup dan kehidupan manusia serta masyarakat. Dan bila pada diri seseorang [juga pada masyarakat] mempunyai konsep seperti itu, maka akhirnya sinisme terhadap agama akan terbukti; manusia tidak membutuhkan agama jika menjadikan dirinya terpecah ataupun terasing dari sesamanya.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar