Free Tail- Heart 2 Cursors at www.totallyfreecursors.com

Rabu, 06 Oktober 2010

tugas artikel softskill


ILMU SOSIAL DASAR – ARTIKEL PERMASALAHAN BATIK
Permasalahan Batik
Dunia batik kita diwarnai dengan berbagai gejolak, antara lain yang berkaitan dengan HKI maupun yang berhubungan dengan lingkup perbatikan sendiri, seperti tekstil motif batik (printing). Tidak adanya kejelasan penanganan masalah HKI, menimbulkan interprestasi yang beragam dikalangan masyarakat dan pemerintah (daerah). Kreatifitas, khususnya didalam bahan, desain corak dan motif, terpengaruh juga dengan dinamika pasar global. Dengan pekembangan teknologi, bentuk pasar batikpun mulai berubah, selain pasar fisik muncul juga pasar on-line. Sedangkan disisi produksi selain masalah produktifitas dan tenaga kerja, berkembang penggabungan atau mungkin persenyawaan (chemistry) antara tenun, printing dan pembatikan. Masa depan batik akan sangat ditentukan dengan pendekatan branding dan pengamanan supply chain, kalau ingin bertahan didunia global. Kota batik di Pekalongan, bukan Jogja eh bukan Solo…. (SBY, Slank). Bahkan, grup musik Slank pun menguatkan citra Pekalongan sebagai kota batik. Namun, melihat pemberitaan mengenai industri batik di sana yang mengalami kelesuan (Kompas, 27/3) bisa jadi lagu tersebut akan tak relevan lagi jika kondisi seperti saat ini dibiarkan. Kelesuan industri batik yang berbuntut pada terhentinya proses produksi untuk sementara waktu jelas merugikan banyak pihak.
Tak hanya penikmat batik, pengusaha dan terlebih para pekerja perajin batik yang jumlahnya ratusan dari 14 kelurahan yang ada di sana pastinya juga mengalami kerugian, terancam dan terpukul sisi perekonomiannya. Kehidupan dari membatik yang mereka andalkan sebagai satu-satunya penopang hidup terancam hilang dan hal tersebut tentunya patut menjadi perhatian kita bersama untuk dicarikan solusinya. Untuk mengatasi permasalahan, tentu kita harus menguraikan satu per satu benang kusut akar permasalahan yang ada. Salah satu hal yang bisa diatasi dan hal tersebut bisa dilakukan secara mandiri oleh para perajin batik adalah dengan menekan beban produksi yang sejauh ini kian merangkak naik. Salah satu kebutuhan bahan baku yang naik tersebut adalah pewarna batik yang harganya dari Rp 26.000 menjadi Rp 48.000, atau hampir dua kali lipatnya .
Permasalahan ini bisa diuraikan, meski tidak secara komprehensif dapat menyelesaikan semua permasalahan, namun paling tidak memperingan beban produksi. Solusi yang bisa ditempuh adalah mengganti bahan baku pewarna batik dengan pewarna batik alami. Selama ini, sebagian perajin batik masih menggunakan pewarna sintetis impor. Padahal, selain harganya cukup mahal, penggunaannya juga mengancam kehidupan manusia karena bersifat karsinogenik yang cukup merusak lingkungan. Belum lagi pembuangan limbahnya yang tentu saja sangat berbahaya. Padahal, sebagian besar industri batik rumahan di Pekalongan membuang limbahnya ke sungai tanpa ada pengolahan terlebih dahulu. Imbasnya, air sungai menjadi tercemar dan tentu saja tidak dapat dimanfaatkan kembali. Lebih dari itu, air sungai yang telah tercemar jika nantinya meresap ke sumur sebagai sumber utama mata air untuk kehidupan sehari-hari, jika dikonsumsi terus-menerus, tentu dalam tempo lama akan berakibat fatal.
Mengenai penggunaan pewarna buatan ini, bahkan Pemerintah Jerman dan Belanda telah melarangnya. Karena, penggunaan pewarna yang terbuat dari bahan kimia, naphtol, maupun garam diazonium ternyata bisa menyebabkan kanker kulit. Oleh karena itulah, mengapa pewarna alami lebih dianjurkan penggunaannya, entah dalam makanan, pakaian, dan lain sebagainya, karena selain ramah lingkungan juga tidak menimbulkan efek samping. Nah, penggunaan pewarna alami pada batik ternyata bisa menjadikan warna batik lebih sejuk untuk dipandang karena warna yang ditimbulkan juga tidak begitu mencolok pada mata kita. Untuk itu, tak aneh jika saat ini wisatawan, utamanya mancanegara, lebih meminati batik dengan pewarna alami dibanding batik dengan pewarna sintetis.
Batik Juga sempat diklaim oleh pihak Negara Malayasia, mereka bilang batik berasal dari negaranya. Indonesia tidak tinggal diam dengan masalah ini, pihak pemerintah langsung mendaftarkan batik sebagai salah satu warisan dari bangsa Indonesia. Ini salah satu contoh keteledoran pihak pemerintah Indonesia selain batik, ada beberapa warisan bangsa Indonesia yang diklaim juga oleh pihak Malaysia. Dari masalah ini muncul ketegangan antara Indonesia dan Malaysia sampai saat ini. beberapa pihak diluar sana yang tidak suka dengan hubungan baik antara 2 negara ini.
Nama               : Lusi Sulistyarini
Kelas               : 1KA31
Npm                : 14110096
Sumber            : http://www.batikmarkets.com/batik.php

Selasa, 05 Oktober 2010

TUGAS SOFSTSKILL


ILMU SOSIAL DASAR
1.  Pengertian
            Berdasarkan sumber filsafat yang dianggap sebagai ibu dari ilmu pengetahuan, maka ilmu pengetahuan dapat di kelompokan menjadi :
  1. Natural Sciences (Ilmu-ilmu Alamiah), meliputi : fisika, Kimia, Astronomi, Biologi dan lain-lain
  2. Sosial Sciences (Ilmu-ilmu Sosial), terdiri dari : Sosiologi, Ekonomi, Politik Antropologi, Sejarah, Psikologi, Geografi dan lain-lain.
  3. Humanities (Ilmu ilmu Budaya), meliputi : Bahasa, Agama, Kesusastraan, Kesenian dan lain-lain.

            Maka Ilmu Sosial Dasar dan Ilmu Budaya Dasar adalah satuan pengetahuan yang dikembangkan sebagai usaha pendidikan.
            Ilmu Sosial Dasar adalah pengetahuan yang menelaah masalah-masalah sosial, khususnya yang diwujudkan oleh masyarakat Indonesia dengan menggunakan pengertian-pengertian (fakta, konsep, teori) yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan keahlian dalam lapangan ilmu-ilmu sosial seperti : sejarah, ekonomi, geografi sosial, sosiologi, antropologi, psykologi sosial.
            Ilmu Sosial Dasar buakn merupakan disiplin ilmu tersendiri karena Ilmu Sosial Dasar tidak mempunyai obyek dan metode ilmiah tersendiri dan juga tidak mengembangkan suatu penelitian sebagaimana suatu disiplin ilmu seperti ilmu-ilmu sosial diatas.
            Ilmu Sosial Dasar (ISD) merupakan suatu bahan studi yang khusus dirancang untuk kepentingan pendidikan yang diberikan di perguruan Tinggi. Mata kuliah ini diberikan dalam rangka usaha untuk memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan guna mengkaji gejala-gejala sosial agar daya tanggap, persepsi dan penalaran mahasiswa dalam menghadapi lingkungan sosial dapat ditingkatkan sehingga lebih peka terhadapnya.

2.  Tujuan
            Ilmu Sosial Dasar mempunyai tujuan pembinaan mahasiswa agar :

  1. Memahami dan menyadari adanya kenyataan-kenyataan sosial dan masalah-   
      masalah sosial yang ada dalam masyarakat.
  1. Peka terhadap masalah-masalah sosial dan tanggap untuk ikut serta dalam usaha-usaha menanggulanginya.
  2. Menyadari bahwa setiap masalah sosial yang timbul dalam masyarakat selalu bersifat kompleks dan hanya dapat mempelajarinya secara kritis-interdisipliner.
  3. Memahami jalan pikiran para ahli dari bidang ilmu pengetahuan lain dan dapat berkomunikasi dengan mereka dalam rangka penanggulangan masalah sosial yang timbul dalam masyarakat.

      3. ILMU SOSIAL DASAR DAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
            Ilmu Sosial Dasar (ISD) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) mempunyai perbedaan dan persamaan. Adapun persamaannya adalah :
  1. Kedua-duanya merupakan bahan studi untuk kepentingan program pendidikan/pengajaran.
  2. Keduanya bukan disiplin ilmu yang berdiri sendiri.
  3. Keduanya mempunyai materi yang terdiri dari kenyataan sosial dan masalah sosial.
Adapun perbedaan antara keduanya adalah :
  1. Ilmu Sosial Dasar diberikan di Perguruan Tinggi sedangkan Ilmu Pengetahuan Sosial diberikan di Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan.
  2. Ilmu Sosial Dasar merupakan satu mata kuliah tunggal sedangkan Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan kelompok dari sejumlah mata pelajaran (untuk sekolah lanjutan).
  3. Ilmu Sosial Dasar diarahkan kepada pembentukan sikap dan kepribadian sedangkan Ilmu Pengetahuan Sosial diarahkan kepada pembentukan pengetahuan dan keterampilan intelektual.

4. RUANG LINGKUP ILMU SOSIAL DASAR
            Untuk dapat menelaah masalah-masalah sosial, hendaknya mengindentifikasi kenyataan-kenyataan sosial dan memahami sejumlah konsep sosial tertentu. Sehingga dengan demikian bahan pelajaran Ilmu Dasar Sosial dapat dibedakan atas tiga golongan yaitu :
  • Kenyataan-kenyataan sosial yang ada dalam masyarakat yang secara bersama-sama merupakan masalah sosial tertentu. Kenyataan-kenyataan sosial tersebut sering ditanggapi secara berbeda oleh para ahli ilmu-ilmu sosial, karena adanya perbedaan latar belakang disiplin ilmu atau sudut pandangannya. Dalam Ilmu Sosial Dasar kita menggunakan pendekatan interdisiplin/multidisiplin.
  • Konsep-konsep sosial atau pengertian-pengertian tentang kenyataan-kenyataan sosial dibatasi pada konsep dasar atau elementer saja yang sangat diperlukan untuk mempelajari masalah-masalah sosial yang dibahas dalam Ilmu Pengetahuan Sosial.
Sebagai contoh dari konsep dasar semacam itu misalnya konsep “keanekaragaman” dan konsep “Kesatuan sosial”. Bertolak dari kedua konsep tersebut, maka dapat kita pahami dan sadari bahwa di dalam masyarakat selalu terdapat :
a.       Persamaan dan perbedaan pola pemikiran dan pola tingkah laku baik secara individual atau kelompok/golongan.
b.      Persamaan dan perbedaan kepentingan.
Persamaan dan perbedaan itulah yang menyebabkan sering timbulnya pertentangan/konflik, kerja-sama, kesetiakawanan antar individu dan golongan.
·        Masalah-masalah sosial yang timbul dalam masyarakat, biasanya terlibat dalam berbagai kenyataan-kenyataan sosial yang antara satu dengan lainnya saling berkaitan.
     Berdasarkan bahan kajian seperti yang disebut diatas, dapat dijabarkan lebih lanjut ke dalam pokok bahasan dan sub pokok bahasan untuk dapat dioperasionalkan. Konsorsium antar bidang telah menetapkan bahwa perkuliahan Ilmu Sosial Dasar terdiri dari 8 pokok bhasan. Dari 8 (delapan) ini diharapkan mempelajari dan memahami adanya :
1        Berbagai masalah kependudukan dalam hubungannya dengan perkembangan masyarakat dan kebudayaan.
2        Masalah individu, keluarga dan masyarakat.
3        Masalah pemuda dan sosialisasi.
4        Masalah hubungan antara warga negara dan negara.
5        Masalah pelapisan sosial dan kesamaan derajat.
6        Masalah masyarakat perkantoran dan masyarakat pedesaan.
7        Masalah pertentangan-pertentangan sosial dan integrasi.
8        Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.
 
Nama               : Lusi Sulistyarini
Kelas               : 1KA31
Matkul             : Ilmu Sosial Dasar

KOG GK BISA