Free Tail- Heart 2 Cursors at www.totallyfreecursors.com

Senin, 22 November 2010

tugas artikel (1) individu, keluarga dan masyarakat


Individu, Keluarga dan Masyarakat

INDIVIDU

Individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas di dalam lingkungan sosialnya,malainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya. Terdapat tiga aspek yang melekat sebagai persepsi terhadap individu, yaitu aspek organik jasmaniah, aspek psikis-rohaniah, dan aspek-sosial yang bila terjadi kegoncangan pada suatu aspek akan membawa akibat pada aspek yang lainnya. Individu dalam tingkah laku menurut pola pribadinya ada 3 kemungkinan: pertama menyimpang dari norma kolektif kehilangan individualitasnya, kedua takluk terhadap kolektif, dan ketiga memengaruhi masyarakat (Hartomo, 2004: 64).
Individu tidak akan jelas identitasnya tanpa adanya suatu masyrakat yng menjadi latar belakang keberadaanya. Individu berusaha mengambil jarak dan memproses dirinya untuk membentuk perilakunya yang selaras dengan keadaan dan kebiasaan yang sesuai dengan perilaku yang telah ada pada dirinya.
Manusia sebagai individu salalu berada di tengah-tengah kelompok individu yang sekaligus mematangkannya untuk menjadi pribadi yang prosesnya memerlukan lingkungan yang dapat membentuknya pribadinya. Namun tidak semua lingkungan menjadi faktor pendukung pembentukan pribadi tetapi ada kalanya menjadi penghambat proses pembentukan pribadi.

Pertumbuhan Individu

Terdapat tiga aliran konsep pertumbuhan yaitu:
  1. Aliran asosiasi: pertumbuhan merupakan suatu proses asosiasi yaitu terjadinya perubahan pada seseorang secara bertahap karena pengaruh baik dari pengalaman luar melalui panca indra yang menimbulkan senssation maupun pengalaman dalam mengenal batin sendiri yang menimbulkan reflexions.
  2. Aliran psikologi gestalt: pertumbuhan adalah proses diferensiasi yaitu proses perubahan secara perlahan-lahan pada manusia dalam mengenal sesuatu. Pertama mengenal secara keseluruhan, baru kemudian mengenal bagian demi bagian dari lingkungan yang ada.
  3. Aliran sosiologi: pertumbuhan merupakan proses perubahan dari sifat mula-mula yang asosial dan social kemudian tahap demi tahap disosialisasikan.

Faktor – faktor yang mempengaruhi pertumbuhan

  • Pendirian Nativistik yaitu Pertumbuhan individu semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir.
  • Pendirian Empiristik dan Envinronmentalistik yaitu Pertumbuhan individu semata-mata tergantung kepada lingkungan sedangkan dasar tidak berperanan sama sekali.
  • Pendirian Konvergensi dan Interaksionisme yaitu Interaksi antara dasar dan linkunagan dapat menentukan pertumbuhan individu.
  • Tahap pertumbuhan Individu berdasarkan Psikologi

Fase-fasenya, antara ain :

- masa vital
- masa estetik
- masa intelektual
- masa social

KELUARGA

Keluarga berasal dari bahasa sansekerta kula dan warga “kulawarga” yang berarti “anggota” “kelompok kerabat”. Keluarga adalah lingkungan di mana beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah, bersatu.
Keluarg inti(”nuclear family”) terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak  mereka. Keluarga merupakan unit satuan masyarakat terkecil sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat.
Menurut Sigmund Freud, keluarga terbentuk karena adanya perkawinan pria dan wanita. Sedangkan menurut Durkhem, keluarga adalah lembaga social sebagai hasil factor-faktor politik, ekonomi, dan lingkungan.
Secara umum dapat dikatakan bahwa keluarga merupakan atau kelompok orang yang mempunyai hubungan darah dan perkawinan. Terdiri dari:
  • Keluarga nuklir/inti/batih (nuclear family) : Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak.
  • Keluarga tua (extended family) : Keluarga kekerabatan yang terdiri dari 3 atau 4 keluarga batih yang terikat oleh hubungan orang tua anak atau saudara kandung oleh suatu tempat tinggal bersama yang besar.
  • Keluarga Individu tersebut merupakan salah satu keturunan.

Fungsi keluarga secara umum menurut Munandar Soelaeman adalah:

1.      Pengatur seksual
·         Hidup bersama atas dasar suka sama suka (kumpul kebo).Pergundikan
·         Hubungan seorang bangsawan dengan gundiknya (jaman praindustri masyarakat barat) atau Raja dengan Selir.
·         Melahirkan anak pada masa tunangan.
·         Perzinahan, sang lelaki sudah menikah ataupun sang wanita sudah menikah.
·         Kehidupan bersama seorang yang bertarak (celibate, pastoral, biarawan, menahan hawa nafsu) dengan orang lain yang juga hidup bertarak atau yang tidak bertarak.
·         Perzinahan, kedua-duanya telah menikah.
·         Kehidupan bersama wanita yang berkasta tinggi dengan lelaki berkasta rendah.
·         incest (hubungan seksual dalamsatu keluarga), saudara lelaki dengan saudara perempuan, bapak dengan anak perempuan, ibu dengan anak lelaki.
2.      Reproduksi
3.      Sosialisasi
4.      Pemeliharaan
5.      Penempatan anak didalam masyarakat
6.      Pemuas kebutuhan perorangan
7.      Kontrol social William J. Goode (1983) menyusun jenis-jenis penyimpangan social dalam pengaturan seksual menurut ketidak seimbangan dalam struktur sosial, yaitu:

Menurut H. Abu Ahmadi :

  1.  Fungsi Biologis
  2.  Fungsi Pemeliharaan
  3.  FungsiEkonomi
  4.  Fungsi Keagamaan
  5.  Fungsi Sosial

Menurut Soewaryo Wangsanegara :

  • Pembentukan kepribadian
  • Alat reproduksi
  • Merupakan eksponer dari kebudayaan masyarakat
  • Lembaga perkumpulan perekonomian
  • Pusat pengasuhan dan pendidikan

Peristiwa terputusnya sistem keluarga, menurut William J, Goode (1983), dapat mengakibatkan terpecahnya suatu unit keluarga. Beberapa macam utama kekacauan keluarga:

  • Ketidaksahan, unit keluarga yang tidak lengkap
  • Pembatalan, perpisahan, perceraian, dan meninggalkan
  • Keluarga selaput kosong
  • Ketiadaan salah satu pasangan karena hal yang tidak diinginkan
  • Kegagalan peran penting yang tidak diinginkan

MASYARAKAT

Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang telah memiliki tatanan kehidupan, norma-norma, adat istiadat yang sama-sama ditaati dalam lingkungannya.
Tatanan kehidupan, norma-norma yang mereka miliki itulah yang dapat menjadi dasar kehidupan sosial dalam lingkungan mereka, sehingga dapat membentuk suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri kehidupan yang khas.
Menilik kenyataan di lapangan,suatu kelompok masyarakat dapat berupa suatu suku bangsa. Bisa juga berlatar belakang suku.Dalam pertumbuhan dan perkembangan suatu masyarakat, dapat digolongkan menjadi masyarakat sederhana dan masyarakat maju (masyarakat modern).

  1. Masyarakat sederhana. Dalam lingkungan masyarakat sederhana (primitif) pola pembagian kerja cenderung dibedakan menurut jenis kelamin. Pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin, nampaknya berpngkal tolak dari kelemahan dan  kemampuan fisik antara seorang wanita dan pria dalam menghadapi tantangan alam yang buaspada saat itu. Kaum pria melakukan pekerjaan yang berat-berat seperti berburu, menangkap ikan di laut, menebang pohon, berladang dan berternak. Sedangkan kaum wanita melakuakan pekerjaann yang ringan-ringan seperti mengurus rumah tangga, menyusui dan mengasuh anak-anak ,merajut, membuat pakaian, dan bercocok tanam.
  2. Masyarakat Maju. Masyarakat maju memiliki aneka ragam kelompok sosial, atau lebih dikenal dengan kelompok organisasi kemasyarakatan yang tumbuh dan berkembang berdasarkan kebutuhan serta tujuan tertentu yang akan dicapai.

Organisasi kemasyarakatan tumbuh dan berkembang dalam lingkungan terbatas sampai pada cakupan nasional, regional maupun internasional.
Dalam lingkungan masyarakat maju, dapat dibedakan sebagai kelompok masyarakat non industri dan masyarakat industri :

  1. Masyarakat Non Industri
Secara garis besar, kelompok nasional atau organisasi kemasyarakatan non industri dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu :

a.  Kelompok primer
Dalam kelompok primer, interaksi antar anggota terjalin lebih intensif, lebih erat, lebih akrab. Kelompok primer ini juga disebut kelompok “face to face group”, sebab para anggota sering berdialog bertatap muka. Sifat interaksi dalam kelompok primer bercorak kekeluargaan dan lebih berdasarkan simpati. Pembagian kerja dan tugas pada kelompok menenerima serta menjalankannya tidak secara paksa, namun berdasarkan kesadaran dan tanggung jawab para anggota secara sukarela.
Contoh-contohnya : keluarga, rukun tetangga, kelompok agama, kelompok belajar dan lain-lain.

b.  Kelompok sekunder
Antaran anggota kelompok sekunder, terpaut saling hubungan tak langsung, formal, juga kurang bersifat kekeluargaan. Oleh karena itu sifat interaksi, pembagian kerja, antaranggota kelompok diatur atas dasar pertimbangan-pertimbangan rasiomnal dan objektif. Para anggota menerima pembagian kerja/tugas berdasarkan kemampuan dan keahlian tertentu, disamping itu dituntut pula dedikasi. Hal-hal tersebut dibutuhkan untuk mencapai target dan tujuan tertentu yang telah di flot dalam program-program yang telah sama-sama disepakati. Contohnya: partai politik, perhimpunan serikat kerja/buruh, organisasi profesi dan sebagainya.   Kelompok sekunder dapat dibagi dua yaitu : kelompok resmi (formal group) dan kelompok tidak resmi (informal group). Inti perbedaan yang terjadi adalah kelompok tidak resmi tidak berststus resmi dan tidak didukung oleh Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) seperti lazim berlaku pada kelompok resmi.

  1. Masyarakat Industri
Durkheim mempergunakan variasi pembagian kerja sebagi dasar untuk mengklarifikasikan masyarakat, sesuai dengan taraf perkembangannya, tetapi ia lebih cenderung memergunakan dua taraf klarifikasi, yaitu sederhana dan yang kompleks. Masyarakat yang berada di antara keduanya daiabaikan (Soerjono Soekanto, 1982 :190).
Jika pembagian kerja bertambah kompleks, suatu tanda bahwa kapasitas masyarakat bertambah tinggi. Solidaritas didasarkan pada hubungan saling ketergantungan antara kelompok-kelompok masyarakat yang telah mengenal pengkhususan. Otonomi sejenis juga menjadi cirri dari bagian/kelompok-kelompok masyarakat industri dan diartikan dengan kepandaian/keahlian khusus yang dimiliki seseorang secara mandiri, sampai pada batas-batas tertentu. Laju pertumbuhan industri-industri berakibat memisahkan pekerja dengan majikan menjadi lebih nyata dan timbul konflik-konflik  yang tak terhindarkan, kaum pekerja membuat serikat-serikat kerja/serikat buruh yang diawali perjuangan untuk memperbaiki kondisi kerja dan upah. Terlebih setelah kaum industralis mengganti tenaga manusia dengan mesin.

Interaksi Antara Individu, Keluarga Dan Masyarakat

Seorang individu barulah individu apabila pola prilakunya yang khas dirinya diproyeksikan pada suatu lingkungan social yang disebut masyarakat.
Gambaran mengenai relasi individu dengan lingkungan sosialnya:

a) relasi individu dengan dirinya
b) relasi individu dengan keluarga
c) relasi individu denganlembaga
d) relasi individu dengan komunitas
e) relasi individu dengan masyarakat
f) relasi individu dengan nasional

HUBUNGAN ANTARA INDIVIDU, KELUARGA, MASYARAKAT

Aspek individu, keluarga, masyarakat dan kebudayaan adalah aspek-aspek sosial yang tidak bisa dipisahkan. Keempatnya mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Tidak akan pernah ada keluarga, masyarakat maupun kebudayaan apabila tidak ada individu. Sementara di pihak lain untuk mengembangkan eksistensinya sebagai manusia, maka individu membutuhkan keluarga dan masyarakat, yaitu media di mana individu dapat mengekspresikan aspek sosialnya. Di samping itu, individu juga membutuhkan kebudayaan yakni wahana bagi individu untuk mengembangkan dan mencapai potensinya sebagai manusia.
Lingkungan sosial yang pertama kali dijumpai individu dalam hidupnya adalah lingkungan keluarga. Di dalam keluargalah individu mengembangkan kapasitas pribadinya. Di samping itu, melalui keluarga pula individu bersentuhan dengan berbagai gejala sosial dalam rangka mengembangkan kapasitasnya sebagai anggota keluarga. Sementara itu, masyarakat merupakan lingkungan sosial individu yang lebih luas. Di dalam masyarakat, individu mengejewantahkan apa-apa yang sudah dipelajari dari keluarganya. Mengenai hubungan antara individu dan masyarakat ini, terdapat berbagai pendapat tentang mana yang lebih dominan. Pendapat-pendapat tersebut diwakili oleh Spencer, Pareto, Ward, Comte, Durkheim, Summer, dan Weber. Individu belum bisa dikatakan sebagai individu apabila dia belum dibudayakan. Artinya hanya individu yang mampu mengembangkan potensinya sebagai individulah yang bisa disebut individu. Untuk mengembangkan potensi kemanusiaannya ini atau untuk menjadi berbudaya dibutuhkan media keluarga dan masyarakat.

 Sumber : Blog Andy's


Minggu, 07 November 2010

artikel tugas individu 3 (tentang bencana alam)



Merapi Meletus
            Gunung Merapi Meletus. Bencana kembali menimpa dengan meletusnya Gunung Merapi pada 26 Oktober 2010 pukul 5 sore, dilaporkan 9 jenazah ditemukan di rumah Mbah Marijan, sedangkan Mbah Marijan sendiri dinyatakan hilang paska meletusnya Gunung Merapi. Wartawan Vivanews dan seorang dokter yang sempat mengikuti Mbah Marijan di lereng Gunung Merapi dilaporkan meniggal dunia.  Seluruh jenazah dibawa ke RS Sarjito.
            Beberapa desa yang berada di sekitar lereng Gunung Merapi diungsikan, dilaporkan banyak para pengungsi menderita penyakit pernapasan akibat tebalnya debu letusan Gunung Merapi. Para pengungsi sangat membutuhkan masker untuk pelindung terhadap bahaya debu vulkanik akibat letusan.
Sumber : google.com
Pendapat :

            Gunung merapi adalah gunung yang paling aktif di Indonesia. Tahun 2006 yang lalu, gunung ini tidak jadi meletus dan baru tahun ini gunung merapi kembali meletus. Sang juru kunci pun meninggal akibat wedhus gembel. Banyak korban yang berjatuhan, dan akibat bencana ini banyak sekali kerugian yang dialami warga disekitar lereng gunung merapi baik kerugian materi maupun kerugian mental.

Solusi :

  • Memulihkan kembali mental para korban
  • Mengenali daerah setempat dalam menentukan tempat yang aman untuk mengungsi.
  • Membuat perencanaan penanganan bencana.
  • Mempersiapkan pengungsian jika diperlukan.
  • Mempersiapkan kebutuhan dasar, jika Terjadi Letusan Gunung Berapi
  • Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah dan daerah aliran lahar.
  • Ditempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan dan awan panas. Persiapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan.
  • Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh seperti: baju lengan panjang, celana panjang, topi dan lainnya.
  • Jangan memakai lensa kontak.
  • Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung
  • Saat turunnya awan panas usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah tangan.
  • Setelah Terjadi Letusan Gunung Berapi, jauhi wilayah yang terkena hujan abu
  • Bersihkan atap dari timbunan abu. Karena beratnya, bisa merusak atau meruntuhkan atap bangunan.
  • Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa merusak mesin


artikel tugas individu 2 (tentang bencana alam)


Banjir Bandang Di Wasior, Papua Barat
            JAYAPURA, KOMPAS.com — Puluhan rumah hanyut dan beberapa keluarga kehilangan sanak-saudaranya akibat banjir bandang yang terjadi di Wasior, ibu kota  Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat, Senin (4/10/2010) pagi. Warga hingga kini mengungsi ke tempat-tempat tinggi di perbukitan karena air dilaporkan telah naik hingga lebih dari dua meter.
            Kepala Bagian Humas Pemkab Teluk Wondama, Titi Ningsih Wizer, Senin siang, mengatakan, semalaman Wasior dilanda hujan. Saat subuh, tiba-tiba air dari gunung turun dengan deras dan membanjiri sungai-sungai. Karena tak mampu menampung aliran, air meluap hingga ke permukiman dan pasar. “Rumah-rumah dari kayu hancur dan hanyut. Kami sekarang sedang mengungsi di tempat tinggi bersama ratusan warga lain. Banyak keluarga kehilangan anak-anaknya ini,” ucapnya.
            Ia mengatakan, jalan yang menghubungkan antardistrik/kecamatan telah jebol sehingga tak bisa dilewati. Namun, belum tahu secara rinci berapa kerugian material dan korban jiwa karena dirinya masih mengungsi. Ia hanya mengharapkan Pemprov Papua Barat dan dari Jakarta segera turun tangan menangani banjir di Wasior. Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Wachyono mengaku masih sulit mengumpulkan informasi dari Polres Teluk Wondama. “Semua saya hubungi tidak bisa. Mungkin gangguan akibat banjir ini,” ucapnya.
Sumber : Kompas.Com

Pendapat :
           
            Memang saat ini potensi curah hujan sangatlah tinggi. kita tidak bisa memprediksi kapan bencana banjir banding ini terjadi. Pemerintah setempat sangat terkesan lambat menghadapi bencana alam ini. Banyak korban yang berjatuhan., dan mereka semua tidak mengetahui jika bencana ini akan terjadi.

Solusi :

  • Salurkan bantuan seperti bahan makanan, selimut, tenda (untuk berteduh), dll.
  • Melarang penerbangan pohon secara illegal (liar)
  • Membantu pembangunan kembali rumah-rumah para korban


artikel tugas individu 1 (tentang bencana alam)


Banjir Jakarta Hari Sabtu 13 Febuari 2010
            Jakarta di perkirakan banjir hari ini, yakni tanggal 13 Febuari 2010 pukul 03:00 WIB dan banjir ini merupakan banjir kiriman dari Bogor Menurut juru bicara Gubernur DKI Jakarta, yakni Cucu Ahmad Kurnia, saat ini pintu air Katulampa Bogor sudah mencapai pada titik 250 centimeter maka jika keadaannya sudah begini siaga I sudah diberlakukan, katanya. Dan beberapa daerah di Jakarta akan terkena banjir. Daerah yang terkena banjir Jakarta ialah Rawajati, Kalibata, Pengadegan, Kebon Baru, Bidaracina, Kampung Melayu, Bukit Duri, dan Jatipinggir. Dan tadi malam Fauzi Bowo melakukan pemantauan mengenai persiapan warga Jakarta, yakni Rawa Jati dan Kalibata dalam hadapi banjir nanti, banjir yang di perkirakan akan terjadi di Jakarta pukul 03:00 WIB. Dan Foke (sapaan Fauzi Bowo) mengomentari mengenai banyaknya sampah di Ciliwung, ia sempat memerintahkan pembantunya untuk mengeruk sampah tersebut (Telat banget yah udah mau banjir baru repot) ini katanya: “Ini sampah banyak sekali. harus keruk. Bisa tidak?” tanya dia pada salah satu pembantunya. Bagi warga Jakarta yang bermukim di daerah yang berpotensi banjir adalah Rawajati, Kalibata, Pengadegan, Kebon Baru, Bidaracina, Kampung Melayu, Bukit Duri, dan Jatipinggir bersiap-siap dan lakukan antisipasi dan semoga tidak jadi banjir…Amiiin Allahuma Amiiin dan banyak bersabar
Sumber : Blog Rumah Abi

Pendapat :

            Memang saat ini potensi curah hujan sangatlah tinggi. Jakarta bukan hanya banjir kiriman saja dari bogor akan tetapi warga Jakarta juga tidak taat dengan peraturan membuang sampah pada tempatnya. Dan hal ini juga dapat mempengaruhi terjadinya banjir di Jakarta. Pemerintah juga terkesan sangat lamban menghadapi hal ini, jika masalah ini terus-menerus didiamkan saja maka keadaan Jakarta saat sedang musim hujan akan semakin parah.

Solusi :

  • Sebaiknya pemerintah segera membuat sanksi/denda kepada warganya yang membuang sampah sembarangan.
  • Memperbanyak tong sampah diberbagai tempat dijakarta.
  • Memperluas sungai dijakarta.
  • Tidak memperbolehkan permukiman liar dibantaran sungai.
  • Sampah-sampah yang terdapat dibantaran sungai, sebaiknya dibersihkan.
  • Got-got dan gorong-gorong dibersihkan dari sampah-sampah.


Sabtu, 23 Oktober 2010

tugas softskill yg berhubungan dgn penduduk, masyarakat, kebudayaan 6


Kampung Kuta terletak di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Hingga sekarang penduduk kampung yang dikelilingi bukit dan tebing tinggi dan berjarak sekitar 45 kilometer dari Ciamis ini dikenal sangat menghormati warisan leluhurnya. Adat dan tradisi menjadi salah satu peninggalan leluhur yang tak boleh dilanggar. Kampung ini dikatagorikan sebagai kampung adat, karena mempunyai kesamaan dalam bentuk dan bahan fisik bangunan rumah, adanya ketua adat, dan adanya adat istiadat yang mengikat masyarakatnya. Salah satu warisan ajaran leluhur yang mesti dipatuhi masyarakat Kuta adalah pembangunan rumah. Bila dilanggar, warga Kuta berkeyakinan, musibah atau marabahaya bakal melanda kampung mereka. Aturan adat menyebutkan rumah harus berbentuk panggung dengan ukuran persegi panjang. Atap rumah pun harus dari bahan rumbia atau ijuk. Begitu pula pembangunan rumah yang mensyaratkan tidak boleh menggunakan bahan semen, melainkan hanya memakai bahan dari kayu dan bamboo. Kendati sederhana, model bangunan seperti itu memang dapat melindungi penghuninya dari berbagai macam gangguan, seperti binatang buas. Bahkan kalau dilihat dari bentuknya, rumah panggung yang terbuat dari bambu dan kayu itu tahan dari guncangan gempa. Apalagi, belakangan ini, sejumlah daerah di Tanah Air kerap dilanda gempa tektonik maupun vulkanik.
Kampung Kuta merupakan masyarakat adat yang masih teguh memegang dan menjalankan tradisi dengan pengawasan kuncen dan ketua adat. Kepercayaan terhadap larangan dan adanya mahluk halus atau kekuatan gaib masih tampak pada pandangan mereka terhadap tempat keramat berupa hutan keramat. Hutan keramat tersebut sering didatangi oleh orang-orang yang ingin mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan hidup. Hanya saja, di hutan keramat tersebut tidak boleh meminta sesuatu yang menunjukkan ketamakan seperti kekayaan. Untuk memasuki wilayah hutan keramat tersebut diberlakukan sejumlah larangan, yakni larangan memanfaatkan dan merusak sumber hutan, memakai baju dinas, memakai perhiasan emas, memakai baju hitam-hitam, membawa tas, memakai alas kaki, meludah, dan berbuat gaduh. Bahkan untuk memasuki Hutan Keramat ini pun tidak boleh memakai alas kaki, Tujuannya agar hutan tersebut tidak tercemar dan tetap lestari. Oleh karena itu, kayu-kayu besar masih terlihat kokoh di Leuweung Gede. Selain itu, sumber air masih terjaga dengan baik. Di pinggir hutan banyak mata air yang bersih dan sering digunakan untuk mencuci muka.
Mayarakat Kampung Kuta mengenal hutan karamat. Dipandang dari sudut etimologis, Kampung Kuta berarti kampung atau dusun yang dikelilingi "kuta" atau penghalang berupa tebing. Menurut cerita yang beredar pada masyarakat setempat, dahutu kala tebing itu berfungsi sebagai penghalang serangan musuh dari luar, ketika Kampung Kuta akan dijadikan sebuah kerajaan oleh Prabu Ajar Sukaresi. Kisah tentang sepak terjang sang Prabu yang menjadi penguasa di Kampung Kuta sangat berpengaruh kepada warganya di kemudian hari. Sikap sang Prabu yang peduli pada lingkungan itu diteruskan kemudian oleh Ki Bumi yaitu seorang utusan Kerajaan Cirebon yang ditugaskan untuk membantu masyarakat Kampung Kuta menjaga wilayah peninggalan Prabu Ajar Sukaresi. Konon, semula Prabu Ajar Sukaresi bermaksud membangun istana di wilayah tersebut, akan tetapi batal karena lokasi yang ditetapkan berada di tengah-tengah perbukitan. Sementara itu bahan-bahan material yang berupa kayu, semen, batu dan bata bahkan besi sudah terkumpul hingga akhirnya tertimbun tanah dan berubah menjadi sebuah bukit kecil. Kini lokasi tersebut berubah menjadi hutan yang dipercaya warga setempat sangat keramat. (Kusumah dalam Purba, 2003: 766-767).
Kawasan hutan keramat boleh dikunjungi oleh orang-orang yang bermaksud mencapai keselamatan, ketenangan hati, kehamonisan rumah tangga, selain meminta harta kekayaan atau maksud-maksud lain dengan meminta bantuan “kuncen” sebagai pemangku adat yang dipercaya mampu berhubungan dengan leluhur yang tinggal di hutan keramat. Kuncen dianggap sebagai penjaga hutan keramat, dan dapat menjadi penghubung antara penunggu hutan keramat dengan orang-orang yang mempunyai maksud. Di wilayah hutan itu ditabukan untuk menyelenggarakan kegiatan duniawi dan dilarang untuk memanfaatkan segala sumber daya dari hutan. Segala sesuatu dibiarkan secara alami, masyarakat dilarang menebang pohon bahkan memungut ranting pun tidak diperkenankan. Jika melanggar tabu atau larangan itu, maka orang tersebut akan mendapatkan sanksi berupa malapetaka.


Larangan-larangan  lain yang berlaku di luar wilayah hutan keramat tapi masih termasuk wilayah Kampung Kuta pun wajib dipatuhi, seperti larangan membangun rumah dengan atap genting, larangan mengubur jenazah di Kampung Kuta, larangan memperlihatkan hal-hal yang bersifat memamerkan kekayaan yang bisa menimbulkan persaingan, larangan mementaskan kesenian yang mengandung lakon dan cerita, misalnya wayang. Larangan-larangan tersebut apabila dilanggar diyakini oleh masyarakat akan menyebabkan celaka bagi mereka yang melanggarnya. Norma adat dan agama memiliki intensitas dan “kekuatan” yang seimbang sebagai pedoman dalam melangsungkan kehidupan secara keseluruhan.
Keunikan lainnya, warga Kampung Kuta sangat dilarang membuat sumur. Air untuk keperluan sehari-hari harus diambil dari mata air. Larangan para leluhur mungkin ada benarnya. Ini lantaran kondisi tanah yang labil di kampung ini dikhawatirkan dapat merusak kontur tanah. Terutama membuat sumur dengan cara menggali atau mengebor tanah. Kedekatan masyarakat kampung adapt dengan alam tidak hanya itu saja setiap tahunnya masyarakat kampung Kuta mengadakan Upacara Adat nyuguh. Upacara Adat Nyuguh ini merupakan suatu upacara ritual tradisional Adat Kampung Kuta Kec. Tambaksari Kabupaten Ciamis yang selalu dilaksanakan pada tanggal 25 shapar pada setiap tahunnya. Upacara ini bertujuan sebagai persembahan bentuk syukur kepada Tuhan dan bumi yang telah memberikan pangan bagi masyarakat kampung Kuta. Kampung adat ini dihuni masyarakat yang hidup dilandasi kearifan lokal. Dengan memegang teguh budaya, pelestarian lingkungan di kampung ini bisa menjadi contoh bagi kita semua untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dengan berpegang teguh kepada budaya lokal. Leuweung ruksak, Cai Beak, Anak Incu Balangsak. Cag.

Blog: http://mustafidwongbodo.blogspot.com/

tugas softskill artikel yg berhubungan dgn penduduk , masyarakat, kebudayaan 5

MINANGKABAU, SUMATERA BARAT

Suku Minangkabau atau Minang (seringkali disebut Orang Padang) adalah suku yang berasal dari provinsi Sumatera Barat. Suku ini terutama terkenal karena adatnya yang matrilineal, walau orang-orang Minang sangat kuat memeluk agama Islam. Adat basandi syara', syara' basandi Kitabullah (Adat bersendikan hukum, hukum bersendikan Al Qur'an) merupakan cerminan adat Minang yang berlandaskan  Islam. Suku Minang terutama menonjol dalam bidang pendidikan dan perdagangan. Kurang lebih dua pertiga dari jumlah keseluruhan anggota suku ini berada dalam perantauan. Minang perantauan pada umumnya bermukim di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Pekanbaru, Medan, Batam, Palembang, dan Surabaya. Untuk di luar wilayah Indonesia, suku Minang banyak terdapat di Malaysia (terutama Negeri Sembilan) dan Singapura. Di seluruh Indonesia dan bahkan di mancanegara, masakan khas suku ini, populer dengan sebutan masakan Padang. Minangkabau merupakan tempat berlangsungnya perang Paderi di tahun 1821 - 1837.
Suku-suku dalam Etnik Minangkabau
           
Dalam etnis Minangkabau terdapat banyak lagi klan, yang oleh orang Minang sendiri hanya disebut dengan istilah suku. Beberapa suku besar mereka adalah suku Piliang, Bodi Caniago, Tanjuang, Koto, Sikumbang, Malayu, Jambak; selain terdapat pula suku pecahan dari suku-suku utama tersebut. Kadang beberapa keluarga dari suku yang sama, tinggal dalam suatu rumah yang disebut Rumah Gadang.
Di masa awal Minangkabau mengemuka, hanya ada empat suku dari dua lareh atau kelarasan (laras). Suku-suku tersebut adalah:
Suku Koto
Suku Piliang
Suku Bodi
Suku Caniago
Etimologi
            Nama Minangkabau berasal dari dua kata, minang (menang) dan kabau (kerbau). Nama itu berasal dari sebuah legenda. Konon pada abad ke-13, kerajaan Jawa melakukan invasi ke Minangkabau. Untuk mencegah pertempuran, masyarakat lokal mengusulkan untuk mengadu kerbau Minang dengan kerbau Jawa. Pangeran Jawa menyetujui usul tersebut dan menyediakan seekor kerbau yang besar dan agresif. Sedangkan masyarakat Minang menyediakan seekor anak kerbau yang lapar dengan diberikan pisau pada tanduknya. Dalam pertempuran, anak kerbau itu mencari kerbau Jawa dan langsung mencabik-cabik perutnya, karena menyangka kerbau tersebut adalah induknya yang hendak menyusui. Kecemerlangan masyarakat Minang tersebut yang menjadi inspirasi nama Minangkabau.
Asal Usul
           
Suku Minang merupakan bagian dari masyarakat Deutro Melayu (Melayu Muda) yang melakukan migrasi dari daratan China Selatan ke pulau Sumatera sekitar 2.500-2.000 tahun yang lalu. Diperkirakan kelompok masyarakat ini masuk dari arah Timur pulau Sumatera, menyusuri aliran sungai Kampar hingga tiba di dataran tinggi Luhak nan Tigo (darek). Kemudian dari Luhak nan Tigo inilah suku Minang menyebar ke daerah pesisir (pasisie) di pantai barat pulau Sumatera, yang terbentang dari Barus di utara hingga Kerinci di selatan. Selain berasal dari Luhak nan Tigo, masyarakat pesisir juga banyak yang berasal dari India Selatan dan Persia. Dimana migrasi masyarakat tersebut terjadi ketika pantai barat Sumatera menjadi pelabuhan alternatif perdagangan selain Malaka, ketika kerajaan tersebut jatuh ke tangan Portugis.
Sosial Kemasyarakatan
           
Daerah Minangkabau terdiri atas banyak nagari. Nagari ini merupakan daerah otonom dengan kekuasaan tertinggi di Minangkabau. Tidak ada kekuasaan sosial dan politik lainnya yang dapat mencampuri adat di sebuah nagari. Nagari yang berbeda akan mungkin sekali mempunyai tipikal adat yang berbeda. Tiap Nagari dipimpin oleh sebuah dewan yang terdiri dari pemimpin-pemimpin suku dari semua suku yang ada di nagari tersebut. Dewan ini disebut dengan KAN (Kerapatan Adat Nagari). Dari hasil musyawarah dan mufakat dalam dewan inilah sebuah keputusan dan peraturan yang mengikat untuk nagari itu dihasilkan.
Kebudayaan
           
Pakaian adat Minangkabau
Dalam pola keturunan dan pewarisan adat, suku Minang menganut pola matrilineal, yang mana hal ini sangatlah berlainan dari mayoritas masyarakat dunia menganut pola patrilineal. Terdapat kontradiksi antara pola matrilineal dengan pola pewarisan yang diajarkan oleh agama Islam yang menjadi anutan hampir seluruh suku Minang. Oleh sebab itu dalam pola pewarisan suku Minang, dikenallah harta pusaka tinggi dan harta pusaka rendah. Harta pusaka tinggi merupakan harta turun temurun yang diwariskan berdasarkan garis keturunan ibu, sedangkan harta pusaka rendah merupakan harta pencarian yang diwariskan secara faraidh berdasarkan hukum Islam. Meskipun menganut pola matrilineal, masyarakat suku Minang mendasarkan adat budayanya pada syariah Islam. "Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Syarak mangato adat mamakai."
Minang Perantauan
            Rumah GadangMinang perantauan merupakan istilah untuk suku Minangkabau yang hidup di luar provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Etos merantau orang Minangkabau sangatlah tinggi, bahkan diperkirakan tertinggi di Indonesia. Dari hasil studi yang pernah dilakukan oleh Mohctar Naim, 1973 (Merantau, Minangkabau Voluntary Migration, University of Singapore), pada tahun 1961 terdapat sekitar 32 % orang Minang yang berdomisili di luar Sumatera Barat, tetapi pada tahun 1971, jumlah itu meningkat menjadi 44 %. Berarti hampir separuh orang Minang berada di luar Sumatra Barat. Melihat data tersebut, maka berarti ada perubahan cukup besar pada etos merantau orang Minangkabau dibanding suku lainnya di Indonesia. Sebab menurut sensus tahun 1930, perantau tertinggi di Indonesia adalah orang Bawean (35,9 %), kemudian suku Batak (14,3 %), lalu Banjar (14,2 %), sedangkan suku Minang hanya sebesar 10,5 %.
Saat ini diperkirakan jumlah Minang perantauan bisa mencapai 70 %, bahkan lebih. Hal ini berdasarkan penelitian acak, yang menyebutkan setiap keluarga di ranah Minang, dua pertiga saudaranya hidup di perantauan[rujukan?]. Kini wanita Minangkabau pun sudah lazim merantau. Tidak hanya karena alasan ikut suami, tapi juga karena ingin berdagang, meniti karier dan melanjutkan pendidikan.
Merantau pada etnis Minang telah berlangsung cukup lama. Migrasi besar-besaran pertama terjadi pada abad ke-14, dimana banyak keluarga Minang yang berpindah ke Negeri Sembilan, Malaysia. Kemudian gelombang migrasi berikutnya terjadi pada abad ke-19, yaitu ketika Minangkabau mendapatkan hak privelese untuk mendiami kawasan kerajaan Riau-Lingga. Pada masa penjajahan Belanda, migrasi besar-besaran terjadi pada tahun 1920, ketika perkebunan tembakau di Deli, Sumatera Timur dikembangkan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pada masa kemerdekaan, Minang Perantauan banyak mendiami kota-kota besar di pulau Jawa. Kini, Minang Perantauan hampir tersebar di seluruh dunia. Ada banyak penjelasan terhadap fenomena ini, salah satu penyebabnya ialah sistem kekerabatan matrilineal. Dengan sistem ini, penguasaan harta pusaka dipegang oleh kaum perempuan sedangkan hak kaum pria dalam hal ini cukup kecil. Hal inilah yang menyebabkan kaum pria Minang memilih untuk merantau.
Penjelasan lain adalah pertumbuhan penduduk yang tidak diiringi dengan bertambahnya sumber daya alam yang dapat diolah. Jika dulu hasil pertanian dan perkebunan, sumber utama tempat mereka hidup dapat menghidupi keluarga, maka kini hasil sumber daya alam yang menjadi penghasilan utama mereka itu tak cukup lagi memberi hasil untuk memenuhi kebutuhan bersama, karena harus dibagi dengan beberapa keluarga. Faktor-faktor inilah yang kemudian mendorong orang Minang pergi merantau mengadu nasib di negeri orang. Untuk kedatangan pertamanya ke tanah rantau, biasanya para perantau menetap terlebih dahulu di rumah dunsanak yang dianggap sebagai induk semang. Mayoritas perantau baru ini biasanya berprofesi sebagai pedagang kecil.

Orang Minangkabau dan Pencapaiannya
           
Suku Minang terkenal sebagai suku yang terpelajar, oleh sebab itu pula mereka menyebar di seluruh Indonesia bahkan manca-negara dalam berbagai macam profesi dan keahlian, antara lain sebagai politisi, penulis, ulama, pengajar, jurnalis, dan pedagang. Berdasarkan jumlah populasi yang relatif kecil (3% dari penduduk Indonesia), Minangkabau merupakan salah satu suku tersukses dengan banyak pencapaian. Majalah Tempo dalam edisi khusus tahun 2000 mencatat bahwa 6 dari 10 tokoh penting Indonesia di abad ke-20 merupakan orang Minang. Sejak dulu orang Minang telah merantau ke berbagai daerah di Jawa, Sulawesi, semenanjung Malaysia, Thailand, Brunei, hingga Philipina. Di tahun 1390, Raja Bagindo mendirikan Kesultanan Sulu di Philipina selatan. Pada abad ke-14 orang Minang melakukan migrasi ke Negeri Sembilan, Malaysia dan mengangkat raja untuk negeri baru tersebut dari kalangan mereka. Raja Melewar merupakan raja pertama Negeri Sembilan yang diangkat pada tahun 1773. Di akhir abad ke-16, ulama Minangkabau Dato Ri Bandang dan Dato Ri Tiro, menyebarkan Islam di Indonesia timur dan mengislamkan kerajaan Gowa.
Kedatangan reformis Muslim yang menuntut ilmu di Kairo dan Mekkah mempengaruhi sistem pendidikan di Minangkabau. Sekolah Islam modern Sumatera Thawalib dan Diniyah Putri banyak melahirkan aktivis yang banyak berperan dalam proses kemerdekaan, antara lain Djamaluddin Tamin, A.R Sutan Mansyur, dan Siradjuddin Abbas.
Pada periode 1920 - 1960 banyak politisi Indonesia yang berpengaruh berasal dari Minangkabau. Di masa Demokrasi Liberal, pemerintahan dan parlemen Indonesia banyak diisi oleh orang Minang. Diantara mereka ialah Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Tan Malaka, Muhammad Yamin, Agus Salim, Muhammad Natsir, dan Assat. Penulis dan jurnalis Minang banyak mempengaruhi perkembangan bahasa Indonesia. Mereka mengembangkan bahasa Indonesia melalui berbagai macam profesi dan bidang keahlian. Marah Rusli, Abdul Muis, Sutan Takdir Alisjahbana, Idrus, dan Hamka sebagai penulis novel. Chairil Anwar dan Taufik Ismail lewat puisi, serta Djamaluddin Adinegoro dan Rosihan Anwar sebagai jurnalis. Di Indonesia dan Malaysia, disamping orang Tionghoa, orang Minang juga terkenal sebagai pengusaha ulung. Banyak pengusaha Minang sukses berbisnis di bidang perdagangan tekstil, rumah makan, perhotelan, pendidikan, dan rumah sakit. Orang Minang juga berkontribusi besar di Malaysia dan Singapura, antara lain Yusof bin Ishak (presiden pertama Singapura), Zubir Said (komposer lagu kebangsaan Singapura Majulah Singapura), Tan Sri Abdul Samad Idris dan Adnan bin Saidi.

tugas sofskill yg berhungan dgn masyarakat, penduduk, kebudayaan 4

Menyusuri tiap jengkal wilayah negara ini tidak akan pernah habis rasa kagum dan penasarannya. Keindahan tiap pulau, kekayaan budaya dan keunikan masyarakatnya memiliki sisi tersendiri. Keberagaman yang muncul ditiap wilayah mampu menunjukkan kebhinnekaan sesungguhnya. Salah satu pesona dari belahan bumi Halmahera adalah kota Jailolo yang  merupakan  Ibukota Halmahera Barat, untuk mencapai tempat tersebut harus menempuh perjalanan 1 jam dari Pelabuhan Dufa-Dufa Kota ternate dengan Speed Bout. Jailolo memiliki keindahan alam yang dapat dinikmati dari kaki Gunung Jailolo serta pelabuhan Jailolo. Penduduk Asli Jailolo terdiri berbagai suku diantaranya Suku Sahu, Ternate, Wayoli, Gorep, Loloda. Suku lain dari luar daerah yang tinggal di Jailolo seperti Suku Ambon, Sangir, Tidore, Gorontalo, Makasar, Jawa dll. Di Jailolo terdapat Suku Asli yaitu; Suku Wayoli, dalam Suku Wayoli ada pembagian kampung  yaitu Soa Tugu ke 1, Soa Tilingi ke 2, Soa Dubu’u ke 3, Soa Rou-rou ke 4, Soa Tosoa ke 5 desa memiliki perbedaan dalam menentukan kepala adat, pemimpin adat, upacara tradisi selesai panen. Dalam desa Lolori mempunyai Kepala Adat, serta Dewan Adat dan kepala adat ini tidak dipilih oleh masyarakat ini, Kepala adat harus dari garis keturunan. Desa Tolosa penduduknya 100 % Kristen, sedangkan Desa Tondowongi Kristen dan Islam. Hal yang sama adalah dalam desa tersebut perempuan tidak diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin.
Masyarakat Jailolo masih menjaga dan menjalankan adat serta tradisi seperti upacara makan bersama di rumah adat (Rumah adat dalam bahasa Jailolo disebut Sasadu),upacara ini diadakan pada bulan Mei dan Juni dan dengan tarian serta lagu tradisonal. Salah satu jenis tarian yang muncul adalah Tarian Legu Salau yang disajikan pada saat upacara adat. Walaupun Penduduk Jailolo tinggal di Pasisir pantai tapi mata pencarian utama Penduduk Jailolo adalah petani, hasil pertanian yg diunggulkan adalah Pala, Cengkih dan Kopra. Setiap desa penduduk menanam pohon lemon(Jeruk) Cui, dengan warna kuning-kuning, menandai lemom ini sudah saatnya di panen, tapi karena harganya murah maka masyarakat membiarkan lemon Cui dipohon saja. Memasuki desa Mutui yang harus ditempuh menggunakan Katinting selama 30 menit dari Jailolo, akan menemukan penduduk desa Mutui yang berjumlah 80 Kepala Keluarga, mereka memeluk agama Islam. Hasil perkebunan masyarakat desa Mutui adalah Pala, Cengkih dan Kopra, dari ketiga macam hasil ini yang paling di unggulkan adalah Pala, karena harga jualnya sangat mahal(Bunga Pala /kg Rp 100.000 dan Biji Pala /kg 70.000).
Selain itu terdapat Desa Susupu jarak tempuh 45 menit dari pusat Kota Halmahera Barat,dengan menggunakan mobil pribadi. Desa ini mempunyai Objek wisata pantai, dan sudah ada beberapa fasilitas yang di bangun pemerintan setempat dan propinsi, tapi sekarang fasilitasnya sudah tidak terurus lagi.Desa berkitnya adalah Gamalamo (Gama artinya Kampung dan Lamo artinya Besar), Jumlah Penduduk di desa Gamalamo 100 Kepala Keluarga dan mayoritas penduduk beragama Kristen. Selain itu terdapat juga desa Lolori.
Desa yang lebih maju yaitu Desa Akediri, desa ini sudah terdapat  fasilitas pasar yang cukup bagus dan maju. Rumah Adat di desa ini berada di samping Pasar (Lokasi rumah adat berada di pusat keramaian desa Akediri). Rumah adat ini dibangun sesudah kerusuhan di Ternate, dan dirumah adat ini masyarakat berkumpul dan bermusyawara, untuk hidup kembali rukun dan damai, dan siap menjaga keamanan dan ketertiban desa Akediri. Menyusuri keindahan Jailolo dan kehidupan masyarakat disana, tak lengkap jika tidak mengunjungi Halmahera utara. Hamahera Utara masih ada masyarakat adat yang penganut agama suku atau agama Wago Ngira yang bertempat tinggal di Desa Wago Ngira (Wago artinya Matahari dan Ngira Bumi). Penduduk Wago Ngira berjumlah 200 jiwa, ini sesuai dengan hasil sensus tahun 2010. Masyarakat Wago Ngira memakai pakaian dari anyaman daun pandan, dan hanya dipakai beberapa hari saja, lalu dibuang di diganti lagi.
Prinsip hidup agama suku ini sangat unik karena mereka tidak peduli dengan kehidupan di luar komunitasnya, menurut mereka lebih baik mengalah daripada menghadapi masalah dengan dunia diluar mereka. Sebagai contoh jika ada tamu berkunjung atau nginap akan disediakan tempat yang terpisah dari tempat mereka beraktifitas, serta mereka akan menyiapkan bahan baku makanan, yang harus dimasak oleh tamu itu sendiri. Masyarakat Wago Ngira memegang adat yang kuat untuk bersatu dengan alam hingga jalan-jalan didesa tersebut tidak diaspal, jadi jarak 4 kilo meter itu hanya jalan setapak, menurut adat mereka aspal adalah buatan luar adat mereka. Ritual adat yang di Desa Wago Ngira ini akan diadakan pada bulan Juli atau Agustus, yaitu ritual adat 25 Tahun sekali menurut perhitungan mereka, jadi dalam ritual adat ini mereka akan mengevaluasi kehidupan mereka selama 25 tahun. Contohnya  kalau semasa hidup 25 yang lalu dia sudah membuat baju dari daun pandan atau dia sudah masak makanan, dan saat perayaan ritual adat ini, dia harus sediakan semua yang sudah dia kerjakan 25 tahun lalu, jadi tidak pandang bulu, anak-anak juga harus melaksanakan itu.
Situs Budaya Benteng Taluko dan Nostre Senora De Rosario
Benteng Toluko adalah Benteng pertama yang didirikan bangsa Portugis. Benteng Toluko dibangun oleh Bangsa Portugis pada tahun 1512, dengan nama Benteng Santo Lukas. Benteng ini dipakai untuk mengintai musuh yang akan datang ke Ternate. Setelah Belanda menduduki Ternate, Maka Belanda merenovasi Benten ini dan Belanda menganti nama Benteng ini  dengan nama Benteng Toluko, nama Toluko adalah nama Sultan Ternate yang berkuasa pada saat zaman Belanda. Mengunjungi Benteng Nostra De Rosaria, tapi Benteng ini lebih di kenal orang dengan nama Benteng Castela, Benteng ini di bangun Bangsa Portugis di desa Kota Jadi. Di atas pintu masuk benteng ini ada Tulisan Jao se ngofa Ngane yang artinya Keturunan Raja, dan ada lambang burung berkepala 2 yang menghadap ke kiri dan ke kanan, dan sayapnya terurai kebawa, dan burung ini adalah burung kesultanan, filosofi dari kepala burung ini adalah kita harus melihat kekiri dan kekanan, jadi tidak boleh melihat satu sisi saja, dan sayapnya adalah Raya itu harus melindung seluruh Rakyatnya.
Sumber : blog Agnes