Free Tail- Heart 2 Cursors at www.totallyfreecursors.com

Senin, 15 Oktober 2012

(softskill b.indonesia3)


 
Globalisasi digambarkan sebagai sebuah proses menyatunya berbagai negara-bangsa ke dalam sebuah perkampungan dunia. Hubungan antarnegara-bangsa tidak lagi terhalang oleh sekat-sekat geografis. Teknologi komunikasi telah “memanjakan” umat manusia dari berbagai belahan dunia untuk saling berinteraksi tanpa dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Dalam situasi demikian, bahasa menjadi piranti “mahapenting” dalam konteks pergaulan global. Hampir bisa dipastikan, bahasa-lah yang menjadi kunci komunikasi untuk membuka sekat-sekat geografis ketika dunia terus bergerak ke dalam pusaran dan arus global.

Persoalannya sekarang, bagaimanakah posisi bahasa Indonesia (BI) di tengah perubahan global? Haruskah BI menutup diri dari pengaruh asing agar unsur-unsur budaya, jatidiri, dan kepribadian bangsa tidak lagi terkontaminasi dan tereduksi oleh kultur asing? Haruskah BI tidak lagi bersikap “ramah” terhadap proses akulturasi budaya antarbangsa ketika fenomena “gegar budaya” dicemaskan akan mengancam dan menggerus nilai-nilai kesejatian diri bangsa?

Sebagai bagian dari masyarakat yang hidup di tengah perkampungan dunia, bangsa kita mustahil akan sanggup menutup diri dari pengaruh asing, termasuk dalam ranah kebahasaan. Bahasa, sepanjang masih dijadikan sebagai media komunikasi, dengan sendirinya akan terus mengalami proses adaptasi budaya. Ia akan terus berproses mengikuti dinamika dan semangat zaman seiring dengan perkembangan peradaban yang memolanya. Ini artinya, BI harus lentur dalam menghadapi perubahan global yang mustahil ditolaknya. Nilai-nilai primordial sempit dengan dalih untuk mempertahankan jatidiri bangsa di tengah gempuran budaya global, dalam konteks demikian, tidak bisa dijadikan sebagai apologi dan pembenaran untuk menolak anasir-anasir bahasa asing. BI justru akan terjebak ke dalam perangkap “keterasingan” di tengah kancah pergaulan dunia apabila BI gagal memosisikan diri sebagai bahasa yang lentur dan adaptif terhadap perubahan.

Proses akulturasi dan asimilasi budaya merupakan proses yang wajar terjadi dalam dinamika komunikasi global. Proses saling memengaruhi dan dipengaruhi akan terus terjadi dalam pergaulan antarbangsa secara simultan dan terus-menerus. Kearifan zaman-lah yang akan menjadi filter utama dalam menilai apakah proses akulturasi budaya itu sesuai dengan ranah kepribadian bangsa atau tidak. Dalam konteks kebahasaan, proses akulturasi dan asimilasi budaya agaknya juga tak bisa ditolak sepenuhnya. BI tak bisa selamanya menutup diri dari pengaruh asing. Fakta justru membuktikan bahwa kosakata BI menjadi amat kaya karena sentuhan pengaruh asing yang secara perlahan-lahan mengalami proses adaptasi, sehingga istilah serapan tak lagi terkesan sebagai sesuatu yang asing.

Seiring dengan peran Indonesia di tengah kancah perubahan global, bahasa Indonesia idealnya makin terbuka, lentur, dan adaptif terhadap istilah-istilah asing. Kalau memang ada padanan yang tepat untuk menggantikan istilah-istilah asing tersebut ada baiknya segera dimasyarakatkan penggunaannya sehingga tidak sampai terjadi padanan kata tersebut justru terkesan lebih asing daripada istilah asing itu sendiri.
Kita pernah memiliki pengalaman “buruk”. Akibat kelambanan dalam memasyarakatkan penggunaan padanan kata terhadap istilah-istilah asing, para penutur justru terasa lebih akrab dengan istilah asing itu sendiri ketimbang padanannya seperti pada contoh berikut.
 
relative (sering dituturkan sebagai relatif) => nisbi;
consistent (sering dituturkan sebagai konsisten) => panggah;
relevant (sering dituturkan sebagai relefan atau dituliskan sebagai relevan) => penad;
effective (sering dituturkan sebagai efektif) => mangkus;
efficient (sering dituturkan sebagai efisien) => sangkil.

Kalau mau jujur, penutur BI lebih mengenal kata-kata relatif, konsisten, relevan, efektif, atau efisien ketimbang kata nisbi, panggah, penad, mangkus, atau sangkil. Dalam konteks demikian, agar perkembangan BI lebih dinamis di tengah perubahan global diperlukan sikap selektif dalam menjaring kata-kata padanan. Tidak semua kata serapan dari bahasa asing “dipaksakan” dicarikan kata padanan dalam BI kalau pada kenyataannya kata padanan tersebut terasa lebih “asing” dan tidak pernah digunakan dalam peristiwa tutur sehari-hari, baik dalam ragam lisan maupun tulisan. Sikap selektif semacam ini juga amat diperlukan dalam menjalankan amanat UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan (pasal 44), khususnya yang berkaitan dengan Peningkatan Fungsi Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Internasional.
Semoga Bahasa Indonesia (BI) makin berkembang secara dinamis seiring dengan perkembangan peradaban global yang terus menawarkan perubahan-perubahan.

Sumber : http://sawali.info/2010/10/19/bahasa-indonesia-di-tengah-perubahan-global/

Pendapat saya :
Semakin bahasa asing masuk, budaya asing asing dan teknologi semakin canggih susah untuk bahasa indonesia dipakai lagi oleh remaja saat ini. Karena saat ini mereka lebih terbiasa menggunakan bahasa tersebut dbandingkan dengan bahasa indonesia. Hal ini susah untuk diperbaiki atau pun disosialisasikan terhadap anak remaja saat ini. Menurut saya, hal ini sulit untuk menggubah kebiasaan itu. Maka dari itu lebih baik sekarang mereka kita ajarkan kapan dan dimana bahasa gaul tersebut dipergunakan, baik atau tidak dipergunakan. Atau kita sosialisasikan kepada anak-anak remaja bagaimana cara berbahasa atau berbicara kepada orang yang lebih tua dan ke yang lebih muda. Bagaimana berbahasa indonesia yang baik dan benar, maka lambat laun pasti mereka akan menggunakan bahasa indonesia. Tapi perlu diingat sosialisasi tersebut harus dikemas secara menarik, simpel dan asik agar mereka mudah dimengerti, dipahami dan agar tidak bosan. Insyaallah jika kita mengajarkan mereka sejak dini, pasti lambat laun bahasa gaul tersebut akan hilang dari pergaulan remaja saat ini dan mereka lebih suka dan lebih banyak menggunakan bahasa indonesia dengan benar. 

Nama : Lusi Sulistyarini
Kelas : 3 KA31
Npm : 14110096


(softskill b.indonesia2)


Tantangan Berbahasa Indonesia Di Masa Kini
Mengutip salah satu isi Sumpah Pemuda, dalam ikrarnya terkandung satu poin yang menyatakan bahwa untuk mempersatukan bangsa adalah dengan menggunakan bahasa Indonesia. Pada 28 Oktober 1928 kala itu, isi ikrar Sumpah Pemuda pun menggunakan bahasa Indonesia. Poin yang tercantum didalamnya pun menunjukkan bahwa kita bersatu padu dalam menggunakan bahasa Indonesia. Berkomunikasi dalam bahasa Indonesia antar sesama teman contohnya, bukankah itu menunjukkan bahwa kita disatukan di negeri ini?
Sebagai penduduk yang lahir dan besar di bumi pertiwi ini, adalah suatu kewajiban menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia kini merupakan bahasa yang digunakan sebagai pengantar pendidikan di seluruh institusi pendidikan dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan tinggi. Bahasa Indonesia juga masuk dalam daftar mata pelajaran yang akan diujikan, yaitu Ujian Akhir Nasional. Dimana dalam hal ini, pemerintah berupaya mengoptimalkan penggunaan bahasa Indonesia di kalangan masyarakat agar lebih baik.

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi yang digunakan oleh Republik Indonesia. Hal ini telah disebutkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 36. Jika kita melihat sejarah, bahasa Indonesia adalah salah satu dialek temporal dari bahasa Melayu yang struktur maupun khazanahnya mirip dengan dialek-dialek temporal terdahulu seperti bahasa Melayu Klasik dan bahasa Melayu Kuno. Bahasa Indonesia bisa dikatakan ‘lahir’ pada tanggal 28 Oktober 1928, sedangkan resmi diakui keberadaannya sehari setelah kemerdekaan Republik Indonesia, 18 Agustus 1945. Meski perjalanan bahasa Indonesia terbilang sangat lama diakui keberadaanya, tetapi hanya sebagian kecil penduduk Indonesia yang setia menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Kenyataannya penduduk Indonesia lebih memilih menggunakan bahasa daerahnya saat berbicara ketimbang bahasa indonesia Indonesia, seperti bahasa Jawa, bahasa Bugis, bahasa Sunda, bahasa Melayu, dan lain-lain. Pengakuan dari berbagai pihak yang saya wawancarai, mereka menyatakan bahwa menggunakan bahasa daerah lebih kental rasa kekeluargaannya karena hal itu telah turun temurun pada komunitas mereka. Ketika berkumpul, umumnya mereka merasa lebih akrab apabila berbicara bahasa daerah. Meskipun begitu, mereka tetap menggunakan bahasa Indonesia ketika berada dalam kondisi formal, pun termasuk berbicara lebih sopan kepada mereka yang lebih tua umurnya.

Tantangan untuk berbahasa Indonesia sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan tidak berhenti disitu saja. Di sisi lain, menggunakan bahasa gaul menjadi tantangan Indonesia saat ini. Maraknya penggunaan bahasa gaul yang sering digunakan oleh remaja membuat bahasa Indonesia terseok-seok. Penggunaan bahasa alay lebih parah lagi. Hal ini marak saya saksikan di beberapa akun social media hingga percakapan sehari-hari. Tentu di satu sisi, penggunaan bahasa tersebut menambah kreativitas seseorang. Mereka mudah untuk mengeksplorasi diri dengan memberikan khasanah kreativitas dalam menciptakan sesuatu. Tetapi di sisi lain, perlu adanya kontrol diri untuk tetap menggunakan bahasa Indonesia. Pernah suatu kali saya bertanya kepada mereka tentang apakah ada kebanggaan tersendiri jika menggunakan bahasa gaul/alay, mereka menjawab bahwa mereka akan diterima dalam suatu komunitas tertentu jika menggunakan bahasa tersebut. Kini saatnya kita bisa lebih bijaksana menggunakan bahasa gaul/alay, agar seimbang penggunaannya dengan bahasa Indonesia.

Pada suatu konferensi internasional, dimana warga dari seluruh dunia berkumpul, kita dituntut untuk bisa menguasai sekurang-kurangnya satu bahasa yakni, bahasa Inggris. Bahasa tersebut merupakan bahasa penghubung bagi kita dan warga luar negeri. Kita pun bisa berkomunikasi dengan lancar ketika mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan baik. Contohnya ketika kita ingin mempromosikan keindahan alam dan budaya Indonesia, kita harus mampu untuk menerjemahkan kalimat-kalimat dalam bahasa Indonesia menjadi bahasa Inggris agar mereka tertarik untuk berkunjung ke negara kepulauan ini. Bahasa pengantar ini pun merupakan keharusan bagi dunia kerja dan karir saat ini untuk memasuki era globalisasi. Jadi bukan saja bahasa Inggris memang diperlukan saat berkomunikasi dengan orang luar negeri saja, ia pun memiliki peran penting dalam kehidupan di masa modernitas saat ini. Tentu saja berbicara dalam bahasa Inggris ada konteksnya, dan kita tidak bisa melihat seseorang yang menggunakan bahasa  Inggris berarti bahwa dia tidak mencintai bahasa Indonesia-nya sendiri. Ada suatu kesempatan dan kondisi dimana ia memang harus menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

Bagi saya, mencintai Indonesia sama saja dengan mencintai kelebihan dan kekurangan bangsa ini, termasuk mencintai bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari pun menunjukkan kita menghargai bahasa Indonesia yang dipakai. Saya sendiri menggunakan bahasa Indonesia dalam berbicara dengan teman sejawat serta menulis di koran dan blog pribadi. Meski terkadang bahasa Indonesia dipadukan dengan bahasa daerah atau bahasa Inggris, tetapi saya tidak ingin menghilangkan esensi bahasa tersebut. Pun kita tidak bisa menutup diri bahwa penggunaan bahasa daerah seringkali dipakai ketika berada di suatu desa, atau bahkan ketika mengikuti konferensi internasional kita membutuhkan bahasa Inggris sebagai penghubung. Namun yang tidak boleh dihilangkan adalah penggunaan bahasa Indonesia itu sendiri, dimana karakter bangsa terlihat pada bahasa Indonesia, yakni menghargai dan mencintai. Lalu, sudahkah anda bangga berbahasa Indonesia di masa kini? Sudahkah anda mencintai bahasa Indonesia dan mengoptimalkannya dalam kehidupan sehari-hari?

Sumber : http://gogreenbella.wordpress.com/2012/04/30/tantangan-berbahasa-indonesia-di-masa-kini/

Pendapat saya :
Remaja saat ini lebih banyak/ sering menggunakan bahasa gaul atau alay karena bahasa-bahasa tersebut mudah dimengerti dan disimpel. Kenapa hal ini terjadi? Karena saat ini teknologi semakin canggih dan gempuran bahasa asing semakin merajelala masuk dengan gampang karena dua hal tersebutlah yang mendorong anak remaja saat ini lebih banyak menggunakan bahasa-bahasa tersebut dibandingkan bahasa indonesia. Dan yang lebih parahnya lagi dari lingkungan keluarga pun tidak mengajarkan anak-anak mereka menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar.  Justru mereka belajar dan lebih sering mendengar dari teman-teman sebayanya tersebut. Katanya sih kalau ga ikut-ikutan menggunakan bahasa gaul dibilangnya ga gaul/cupu/jadul.

Dan dipertambah lagi tidak adanya fasilitas yang mendukung pembelajaran menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar disekolah maupun diluar sekolah. Sebaiknya jika tidak mau bahasa indonesia itu hilang dari pergaulan anak remaja saat ini, lebih baik difasilitasi pembelajaran bahasa indonesia ini disekolah terlebih dahulu, pembelajaran ini juga sebaiknya dibuat semenarik mungkin/sesimpel mungkin/ segampang mungkin untuk dicerna/dipahami dan dimengerti oleh anak remaja saat ini khususnya anak sekolahan. dengan itu diharapakan semoga bahasa indonesia mulai terbiasa dipergunakan oleh remaja saat ini.  

Nama : Lusi Sulistyarini
Kelas : 3 KA31
Npm : 14110096

(softskill b.indonesia)


Bahasa Indonesia, Asing di Rumah Sendiri
Sobat, masih ingatkah dengan isi dari Sumpah Pemuda pada 28 oktober 1928? Yang antara lain mengikrarkan bahwa Bahasa Indonesia sebagai Bahasa persatuan. Yang menyatukan seluruh komunikasi semua suku bangsa di nusantara dengan adanya satu bahasa yang dimengerti bersama. Namun masihkah Bahasa Indonesia dicintai oleh bangsanya sendiri? Ironisnya, remaja jaman sekarang merasa jauh lebih keren jika pandai cas cis cus dalam Bahasa Inggris ketimbang melafalkan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini tak lepas dari peran berbagai lembaga pendidikan maupun lembaga ketenagakerjaan (baca:lowongan kerja) yang mensyaratkan bahasa inggris sebagai kemampuan dasar, sehingga bahasa Indonesia semakin terkikis dengan adanya bahasa inggris. Menguasai bahasa Inggris sudah menjadi syarat mutlak bukan hanya dalam ranah dunia kerja tapi juga ranah pendidikan. Adanya TOEFL sebagai syarat kelulusan, mengakibatkan lembaga kursus bahasa dari kampung halaman Ratu Elizabeth ini tumbuh subur bak cendawan di musim hujan. Menguasai bahasa internasional memanglah di perlukan, namun tak berarti menggeser bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Dalam keseharian pun, bahasa  Indonesia sudah terkontaminasi oleh bahasa gaul dan bahasa alay yang diciptakan oleh kalangan muda sendiri. Penggunaaan ‘aku-kamu’ yang telah terganti dengan ‘loe-gue’, atau ‘ibu-bapak’ yang di ganti menjadi ‘bokap-nyokap’. Bahkan pelajaran Bahasa Indonesia yang sering di pandang sebelah mata karena menganggapnya sebagai ilmu ladunni tersebab telah mempelajarinya sejak kecil juga membawa masalah tersendiri di kalangan para pelajar.
Bahasa Indonesia, yang kita kenal saat ini lahir dari rumpun bahasa melayu, dan kemudian dijadikan bahasa nasional. Bahasa Indonesia tak semudah pengucapannya dalam kehidupan sehari-hari, teori dan kaidah kebahasaan yang baku selalu di tuntut dalam penulisan karya ilmiah, bahkan fiksi sekalipun. Namun minimnya pengetahuan dan abainya generasi masa sekarang terhadap kaidah kebahasaan yang berlaku membuat banyak penggunaan bahasa Indonesia yang salah kaprah. Bahkan seorang yang berprofesi penulis pun harus belajar menggunakan kaidah kebahasaan yang benar agar tulisannya tak tertolak. Namun dengan adanya jenis tulisan pelit ( Personal Literature) membuat aturan berbahasa menempati nomer kedua di bandingkan isi tulisan. Adanya blog keroyokan seperti kompasiana seharusnya dapat membuat warga Indonesia lebih banyak belajar menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Adanya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 silam, adalah untuk mempersatukan salah satu alat komunikasi yang paling penting dalam hubungan antarmanusia, antar daerah dan antar budaya. Sungguh amat di sayangkan bila kemudian bangsa Indonesia lebih mementingkan belajar bahasa asing demi persaingan di kancah global tanpa mendalami Bahasa Indonesia yang merupakan identitas kita sebagai Bangsa Indonesia.
Gagap dalam menulis karya ilmiah sering terjadi pada mahasiswa yang sedang menjalani jenjang S1 dengan menulis skripsi atau tesis bagi jenjang S2. Karena menganggap Bahasa Indonesia adalah Bahasa yang di ucapkan sehari-hari maka tak berminat mendalami sebab merasa bahwa Bahasa Indonesia adalah ilmu ladunni. Terbukti mereka lebih nyaman menulis essay atau karya tulis dalam Bahasa Inggris di banding Bahasa Indonesia. Karena terkadang mereka tak bisa menemukan ungkapan yang tepat dalam Bahasa Indonesia sebab lebih sering mendengar ungkapan dalam Bahasa Inggris.
Gempuran berbagai bahasa asing seiring perkembangan budaya dan tren juga mempengaruhi kepopuleran bahasa kita. Dari waktu ke waktu, budaya luar masuk mempengaruhi budaya kita termasuk dalam hal bahasa. Seperti K-Pop yang sedang marak saat ini membuat para penggila artis Korea itu beramai-ramai mempelajari bahasa korea. Itulah, Bahasa Indonesia telah menjadi asing di rumah sendiri. Sedangkan Bahasa Inggris telah menjadi bahasa asing yang sudah tak asing lagi di negeri ini.  Lalu, masihkah kita mencintai bahasa ini? Bahasa yang di cetuskan demi persatuan semua suku bangsa di seluruh nusantara. Masihkah kita mencintainya? Akankah di masa depan Bahasa Indonesia hanya ada dalam percakapan dan menghilang dalam tulisan karena di dominasi oleh bahasa asing?
Mari kita renungkan bersama.


Pendapat saya :
Remaja diindonesia saat ini jauh lebih banyak yang menggunakan bahasa gaul daripada bahasa indonesia yang baku dan yang benar. Hal ini terjadi karena ada beberapa faktor yang mendominasinya. Yang pertama, hal ini tejadi dikarenakan gempuran bahasa-bahasa gaul ataupun asing yang masuk kedalam pergaulan remaja jaman sekarang yang agak susah untuk meredamnya. Yang kedua, bahasa-bahasa asing atau gaul itu lebih mudah untuk dicerna dan dipakai (simpel) untuk bahasa sehari-hari. Maka anak-anak remaja sekarang lebih suka menggunakan bahasa-bahasa asing atau gaul itu. Seharusnya mereka diperkenalkan lebih dalam lagi akan bahasa indonesia tersebut dimulai sejak dini.

Susah untuk bahasa-bahasa tersebut dihilangkan dari pergaulan remaja jaman sekarang, tapi ada cara untuk mengatasinya. Yang pertama, kita harus tahu terlebih dahulu kapan bahasa-bahasa gaul itu akan dipakai atau tidak. Yang kedua, kita harus tahu terlebih dahulu akan dipakai dengan siapa bahasa tersebut (jika ke yang lebih tua sebaiknya jangan dipergunakan bahasa tersebut). Yang intinya sih kita harus tahu situasi dan kondisi, kapan dan dimana bahasa-bahasa tersebut dipergunakan. Maka dari itu lebih baik kita mengajarkan kepada anak cucu kita menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar sebelum bahasa indonesia itu benar punah (tidak dipakai lagi oleh bangsa kita sendiri).
Nama : Lusi Sulistyarini
Kelas : 3 KA31
Npm : 14110096